Make your own free website on Tripod.com
dunia kecil di belantara maya
ada di sudut kelokan jalan
dekat dapur peradaban

/depan
/indeks fragmen

/link
/isisitus

KE KAFE BLUES

RINTIK hujan masih memenuhi kaca jendela mobil, saat handphoneku berdering. Bunyinya lamat-lamat saja. Mungkin ia takut menggangguku yang sedang sibuk memberi makna pada hujan. Mungkin ia tahu aku sedang bertanya mengapa hujan selalu bermakna sama: kedukaan semata. Tapi, ia masih berbunyi saja. Ini kali lebih keras. Mungkin ia mau mengingatkan aku agar jangan terlalu sering berpikir hal-hal yang tidak perlu. Mungkin ia bosan dengan segala keluh tentang kedukaan. Lalu, ia berbunyi sekali lagi.

"Halo." Kusapa si penelpon itu. Oh, ternyata telepon dari kawan yang sudah lama tak kujumpa. Ia masih ingat aku! Betapa senangnya! Kemudian kami saling berbincang tentang kabar masing-masing. Bicara sedikit tentang keluarga, pekerjaan, dan tentu tak lupa: percintaan. Kami berdua memang kurang beruntung dalam perkara cinta. Ah, siapa sangka setelah sekian lama akhirnya kita saling menyapa. Siapa menduga jarak dan waktu yang membentang kini tak lagi terasa. Terpuaskan hatiku akan sebuah pertemanan. Bukankah teman adalah harta yang memberi rasa bahagia?

Namun, pembicaraan kami tidak bisa berlangsung lama. Mungkin untuk itu ia bertanya apa hari Jumat nanti aku ada waktu luang. 
"Memangnya kenapa?" tanyaku. 
"Bagaimana kalau kita ke kafe untuk mendengarkan blues?" ajaknya.
"Oke, kita jumpa di sana. Kita akan mendengarkan blues bersama seperti dulu lagi," teriakku senang. 

Kusudahi pembicaraan itu dan mengulang janji untuk datang ke kafe itu untuk mendengarkan blues. Ya, seperti dulu lagi. Mereguk sama-sama entah bir atau vodka, lalu menyimak komposisi Jimmy Hendrix, Janis Joplin, B.B. King, Edgar Winter, atau bahkan Eric Clapton. Kadang-kadang sendiri, tapi lebih sering bersama-sama. Sayang, kebanyakan aku pergi dengan pria. Entah mengapa perempuan mengaku tidak suka. Bukankah blues tak hanya untuk pria? Bukankah Janis Joplin penyanyi blues perempuan yang cukup ternama? Barangkali mereka tidak suka erangan karena luka. Barangkali mereka muak dengan kisah para penyanyi blues yang mati karena narkotika.

"Semoga kau suka blues, Ara. Siapa tahu kita bisa ke kafe untuk mendengar Sue menyanyikan lagu Janis Joplin yang terkenal, -Me and Bobby McGee-" bisikku berharap. Boleh saja 'kan aku berharap? Siapa tahu semilir udara mau menyampaikan pesanku padanya.

Sayang sekali, aku tidak sedang menyimak lantunan Joplin yang mati muda di umur 33. Dari tadi yang melulu kudengar hanya lagu-lagu Gary Moore dari album "After Hours" saja. Kalau tak salah, ia tengah memainkan lagu "Story of The Blues" yang ditulisnya sendiri. Lumayan untuk mengusir kelembapan malam. Sayang orang terlanjur mengenal Gary Moore hanya sebagai pelantun "Still Got A Blues" yang mendayu-dayu itu. 

- Used to be so easy to give my heart away
But I found out the hard way, there's a price you have to pay
I found out that love was no friend of mine
I should have known time after time -

Gara-gara lagu itu, orang sering menyangka Moore adalah seorang musisi blues sejati. Padahal ia adalah seorang musisi hard rock, bukan gitaris blues. Faktanya, komposisi blues yang ia mainkan jumlahnya tak seberapa. 

Namun harus diakui bahwa permainan gitarnya amat mencengangkan. Lebih-lebih karena Moore tidak menyibukkan diri dengan olah-keterampilan memainkan gitar seperti umumnya musisi hard rock dan memilih bermain begitu sederhana untuk memberi nafas di setiap nada. Dengan demikian lagu-lagu yang dimainkannya sanggup meresap ke dalam jiwa para pendengarnya. Sejauh ini aku rasa ia cukup sukses mempraktikkannya.

Lalu, siapa yang sanggup mendengar ia bernyanyi lagi?
- Used to be so easy to fall in love again
But I found the hard way, it's a road that leads to pain
I found that love was more than just a game
You're playin' to win, but you lose just the same -

Ah, aku pasti melantur ya. Sudahlah, jangan pedulikan aku. Karena aku ingin kembali sibuk memaknai malam, sembari mengucapkan selamat malam untuk gadis yang kupuja.

"O ya sumi nasai, Ara."

Jakarta, 25 Januari 2001

 

Kreasi ini dilindungi oleh kesetiaan dan ketekunan, 
jadi mohon hargailah dengan layak dan sepantasnya.
Permohonan atas salinan puisi bisa disalurkan lewat email.
Amang's World - 2001-2003