Make your own free website on Tripod.com
dunia kecil di belantara maya
ada di sudut kelokan jalan
dekat dapur peradaban

/depan
/indeks fragmen

/link
/isisitus

KELUH KESAH DARI BAGHDAD
Bertemu Pandora, istri Epimetheus

TANPA sengaja aku bertemu dengan Pandora, istri Epimetheus di dalam bus kota.
"Lho, sendiri saja? Suamimu sedang dinas?" tanyaku.
"Iya, sendiri. Tidak, tidak. Epimetheus masih di rumah. Sudah lama tidak punya pekerjaan, jadi ia cuma menunggu di Olympus kalau-kalau ada pekerjaan yang dilimpahkan Zeus untuk segera ditangani. Dan karena itu, aku sekarang yang harus cari nafkah sehari-hari."
Oh, baru tahu aku kalau Pandora sekarang bekerja. 
"Hebat!" pujiku, "Tapi kamu kerja dimana sekarang?"
Jawabnya acuh pada pujianku, "Di hotel Indonesia."
"Oh ya? Berarti kita searah," ujarku senang.

* * *

Aku ingat saat pertamakali bertemu Pandora. Kejadian itu tak lama setelah Hephaestus, yang menyimpan banyak rasa seni, menjadi lumpuh. Pada waktu itu Zeus begitu marah kepada Hephaestus sehingga ia dilemparkan dari ketinggian Olympus. Selama tiga hari tiga malam ia jatuh sebelum sampai di tanah. Hingga kini Hephaestus menjadi cacat, tapi ia temanku.

Kepadaku, Hephaestus pernah bercerita tentang Pandora yang lebih halus dan lebih mungil daripada Aphrodite, istrinya. Dalam ceritanya, Hephaestus mengisahkan betapa ia siang-malam memberi sentuhan kemuliaan pada Pandora agar nantinya dapat dihadiahkan kepada Zeus sebagai ucapan maafnya. Tentu saja ia masih menderita karena terjatuh dari Olympus, tetapi itu kesalahannya sendiri.

Nah, sewaktu hendak bertemu dengan Zeus itulah kali pertama aku bertemu Pandora. Kepadaku Hephaestus berbisik betapa ia amat mengagumi kemuliaan yang dimiliki Pandora dan aku menganggukkan kepala tanda setuju. Pandora begitu halus dan mungil serta jauh lebih cantik daripada Aphrodite, istri Hephaestus yang tak setia itu. Kerlingan matanya seperti sanggup menelan matahari dan senyum di bibirnya mengalahkan keindahan pelangi. Kukatakan ini kepadamu, karena Pandora memang sungguh cantik-menawan dan mulia.

Itu sebabnya, aku dan Hephaestus merasa senang manakala Zeus menerima Pandora dengan hati riang, tetapi kami tak menduga bahwa ia punya rencana rahasia. Kupikir waktu itu amat wajar bila Zeus akhirnya meminangkan Pandora dengan Epimetheus, kakak Prometheus. Tak ada yang menduga bahwa sebenarnya Zeus menjodohkan keduanya oleh karena rencana busuk yang hendak dijalankannya. Baru belakangan, setelah Prometheus menemuiku di kerimbunan taman Hera yang penuh mawar dan anggrek hutan, aku tahu rencana di balik keriangan Zeus.

Namun semua itu terlambat. Zeus telah terlanjur memberikan kotak bencana itu sebagai hadiah perkawinan Pandora-Epimetheus dan karena rasa ingin tahunya, Pandora membuka kotak berisi malapetaka itu dan sejak itulah manusia hidup sengsara karena wabah penyakit, kesedihan dan keputusasaan. Sejak itu aku tak bertemu Pandora.

* * *

Aku masih tertegun melihat Pandora. Sejak terakhir bertemu dan sekarang ini, ia tak berubah. Rasanya baru kemarin sore Hephaestus bercerita tentang Pandora dan hari ini aku bertemu lagi dengannya. Satu-satunya yang berubah adalah tempat pertemuan kami.

"Lumayan juga kerja di sini. Kondisinya jauh lebih baik dari hotel Palestine di Baghdad," jawab Pandora atas pertanyaanku tentang kondisi kerja di Indonesia. "Ya, sedikit kami mengeluh tentang bayaran tapi paling tidak bayaranku tidak dipotong atau dicicil."
"Oh, ceritakan padaku Pandora tentang Baghdad!" pintaku.
"Ah, kota seribu satu malam itu kini amatlah buruk. Tak ada listrik, tak ada air bersih dan tak ada cukup makanan untuk semua orang. Di jalan-jalan, debu-debu jalan bercampur keringat dan bau mesiu. 

Terlalu banyak kekerasan dan terlalu banyak Kalashinov. Di mana-mana orang bercerita tentang kedatangan prajurit marinir, tetapi di sudut-sudut banyak pasukan garda republik menyembunyikan tato pedang dan senjata laras panjang dengan tulisan "Kharis Jumhury Saddam" di bawah jubah jalabiya dan mencukur kumis mereka. 

Sehari tiga kali helikopter Cobra menderu masuk kota mengepung sisi timur sungai Tigris sebelum akhirnya tank-tank dan artileri menggempur kota itu dan tentu saja seperti yang kau baca di koran-koran, Hotel Palestine terkena hantaman rudal-rudal Tomahawk pasukan koalisi. Tiga wartawan mati, tapi banyak penghuni hotel yang tidak kalah berdosa terluka parah.

Kota seribu satu malam itu jadi kuburan raksasa. Rumah sakit tak lagi mampu menjalankan fungsinya, sementara bencana perang datang seperti wabah penyakit tak tersembuhkan. Aku menangis. Aku trauma. Aku takut. Sama seperti waktu pertama kali kotak dari Zeus itu kubuka dan kulihat awan malapetaka berisi penyakit, kesedihan dan keputusasaan menggelapkan langit dan menutup cahaya matahari seperti gerhana. Aku menangis dan terus menangis," isak Pandora padaku.

"Tapi ini kali bukan karena kesalahanmu, Pandora. Apa yang terjadi padamu itu cukup sekali saja dan untunglah di dasar kotak masih bisa kita temukan harapan," hiburku.

"Memang bukan salahku. Aku menangis bukan karena ini kesalahanku. Tetapi karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, bencana perang ini jauh lebih kejam daripada kotak yang diberikan Zeus kepadaku dan suamiku. Mereka sama sekali tidak meninggalkan harapan. Di Baghdad, Tikrit, Basrah, kota-kota kecil lain di sepanjang sungai Eufrat dan Tigris beribu orang mati karena kesia-siaan."

"Sekali lagi ini bukan karena kesalahanmu, Pandora. Mereka memang tidak meninggalkan harapan karena mereka tidak begitu percaya lagi pada harapan. Mereka kini percaya pada demokrasi dan keseimbangan ekonomi." Namun Pandora sudah begitu penuh tangis dan kami berdua seperti sepasang kekasih yang sedang berkelahi di dalam bus kota.

Pandora menangis hebat dan mulai memukuliku. Katanya, "Kau ini! Mana bisa mereka percaya pada demokrasi dan keseimbangan ekonomi. Itu cuma bahasa propaganda dan cerita basi sebuah peperangan. Aku tahu itu dan karena itu aku pergi dari Baghdad. Terlalu banyak kebohongan dan terlalu banyak kemunafikan di sebuah negeri yang akan mati. Kau ini, dan semua penghuni dunia ini sudahkah lupa dan barangkali segera binasa bila kalian tak segera miliki harapan. Harapan untuk kehidupan yang lebih baik dan itu bukan karena kalian memiliki demokrasi dan keseimbangan ekonomi, tetapi karena kalian mulai menghargai kehidupan dan mengembangkan peradaban yang menjauhi peperangan. Kau ini! Apakah tak kalian lihat padaku akibat perbuatanku?"

Harapan. Cuma aku dan Hephaestus yang tahu kemana harus pergi mencarinya. Tapi rasanya percuma mencari harapan di peradaban ini, sejak Epimetheus ditugaskan Zeus untuk membuang harapan di kegelapan belantara Boven Digul. Sekali lagi aku menghibur Pandora, meski hatiku ikut menangis dan terluka karena frustasi.

Jakarta, 16 April 2003


Kreasi ini dilindungi oleh kesetiaan dan ketekunan, 
jadi mohon hargailah dengan layak dan sepantasnya.
Permohonan atas salinan puisi bisa disalurkan lewat email.
Amang's World @ 2003