Make your own free website on Tripod.com
Amang's World | dunia kecil di belantara maya | ada di sudut kelokan jalan | dekat dapur peradaban

 
The Contents
/depan
/buku
/cerpen
/esai+surat
/foto+film
/fragmen
/puisi
/sobatpena
 
Behind This Site
/links
/sitemap
 
Message of the day
"The more you know who you are and what you want,the less you let things upset you" (Bill Harris, 'Lost In Translation')
 
LELAKI BERAROMA BUAH JERUK

BAKAU-BAKAU rimbun tumbuh rapat berdampit-dampitan. Batang dan sulurnya kait-mengkait seperti tangan-tangan yang bergandengan. Akarnya besar, menembus rawa-rawa pantai Ujong Blang seperti kaki kuat para buruh pelabuhan. Dari jauh rimbunan bakau itu seperti barisan depan demonstran yang siap menghadapi palang rintang polisi. Saat itulah kali pertama kulihat dirinya.

Sepintas lalu saja wajahnya dapat kuperhatikan, karena tangan ibuku terburu mengendong aku lari menjauhi hutan bakau. Dari balik bahu ibu, kulihat ia sedang merentangkan tangannya lebar-lebar, seolah ingin membendung laju para penebang yang ditugaskan untuk membabat habis hutan bakau kami. Ia tak sendirian. Bersama beberapa lelaki dari desa kami, ia membuat pagar hidup yang berdiri melingkari pohon bakau. Tapi para penebang dari lain pulau itu tak bergeming. Mereka terus maju. Tepat pada saat itu, pandanganku terhalang gundukan pasir pantai.

Baru pada sore hari, akhir ceritanya kutahu dari mulut tetangga rumah. Katanya, bakau-bakau di pinggir pantai itu telah musnah dan dibumi-hanguskan. Batang, sulur, dan akar mereka dipotong-potong, lalu dibakar. Ia dan beberapa lelaki desa syukurlah masih hidup, tapi kini berada dalam tahanan. Waktu itu kira-kira pukul tiga sore. Aku memandang ke arah pantai Ujong Blang Lhokseumawe, di langit hanya ada gelap awan menghitam.

Lama setelah kejadian itu baru kulihat lagi ia. Lelaki yang sama, dengan postur tubuh yang kurang lebih sama. Hanya saja ia terlihat jauh lebih tua. Ia masih seperti dulu, masih beraroma buah jeruk. Wangi buah jeruk itu sama sekali tak bisa kulupakan. Segar sekali. Waktu kecil, aku dan semua temanku mengira ia adalah seorang penjual buah jeruk yang hendak membuka kiosnya di kampung kami. Ia begitu wangi karena mandi dengan satu bak mandi penuh air perasan buah jeruk. Tapi kata ibuku, mengutip penjelasan kepala kampung, ia adalah seorang ahli mangrove. Kutanya ibu, apa itu mangrove. Kata ibuku dengan polos, mangrove itu sebutan orang kota untuk juragan buah jeruk. Maka jadilah sejak saat itu ia kusebut sebagai lelaki beraroma buah jeruk.
Saat kutemui untuk kali pertama setelah sekian tahun berlalu, ia baru selesai mandi. Kemejanya terlihat bersih, begitupula dengan celana kainnya yang tersetrika rapi. Rambutnya tersisir rapi ke samping. Wajahnya tampak segar dan wangi buah jeruk tercium oleh hidungku.

"Kabar bapak sehat?" sambil kujabat tangannya.
"Lumayan, Nak Dokter." Ia membalas jabat tanganku, sementara mata coklatnya kini menatapku lekat. Mata itu terlihat letih dan menghitam pada bagian bawahnya. Kerutan pada mata terlihat banyak.
"Bapak bisa tidur?"

Ia menggeleng, lalu berbicara dengan nada pelan. "Tidak bisa, Nak Dokter." Kemudian ia memulai perbincangan serius denganku. Ia berbicara tentang mimpi yang menghantuinya siang dan malam. Mimpi tentang akhir zaman.

"Nak Dokter, belakangan mimpi itu datang lagi! Ini benar-benar akan terjadi, percayalah padaku. Aku tidak gila, Nak Dokter! Air itu akan jadi musuh kita. Ia akan datang dari arah barat pantai. Bergulung-gulung mendekati rumah kita. Semua yang kita sayangi akan hilang. Air mata akan habis karena perih yang terjadi. Apakah kau percaya, Nak? Ini semua gara-gara aku, Nak Dokter. Aku gagal menghela mereka yang mau menebang hutan bakau kita. Aku... aku..."

Ia tidak melanjutkan lagi kisahnya. Ia memilih menangis tersedu-sedu. Aku memberinya sapu tanganku agar ia mengusap tetes tangis yang keluar dari sudut matanya. Ia mengambil sapu tanganku, tapi ia tak sudi lagi berbicara. Kalau sudah begini, tugasku berhenti seperti menatap tembok besar. Terpaksa kuberalih ke penghuni penjara lain yang juga mengalami gangguan kejiwaan.

Namun bagaimanapun juga, aku merasa beruntung. Tugasku sebagai dokter jiwa penjara membimbing jalan hidupku untuk bertemu lagi dengan lelaki beraroma buah jeruk itu. Aku ingat betapa ibu, para lelaki, dan kepala kampung amat mengagumi lelaki beraroma buah jeruk itu. Ia selalu berbicara tentang pentingnya menjaga hutan bakau untuk kelestarian pantai kami. Bila bakau tumbuh dengan subur, kehidupan kami pasti akan terjaga aman. Tak lama setelah ia dan sejumlah lelaki dipenjara, semua orang pelan-pelan mulai hati-hati bicara tentang hutan bakau hingga akhirnya melupakannya.

Hari demi hari, isi pertemuan kami selalu sama. Ia datang setelah mandi. Kembali ia mengeluhkan mimpi buruknya. Setiap kali ia berusaha meyakinkanku, akhir zaman akan datang dari arah laut sebelah barat.

"Mengapa bapak selalu mengatakan akhir zaman sudah dekat?" tanyaku suatu hari.
"Karena Nak Dokter, aku dapat melihatnya dengan jelas. Hutan bakau di pinggir pantai tak lagi ada. Kalau ada ombak yang demikian besar menghantam daratan, tak ada lagi yang mampu membendungnya. Tidak juga semua tembok dari campuran batu dan semen itu. Air akan masuk begitu saja, lebih tinggi dari rumah, setinggi pohon kelapa, menyeret semua yang ada, hingga terseret masuk ke tengah lautan kembali."
"Banyak bangunan yang rusak?"
"Bukan hanya itu. Akan ada begitu banyak orang yang mati dengan sia-sia. Semua perhatian orang akan tertuju ke tempat ini, tapi tak akan banyak yang bisa dilakukan. Semuanya begitu hancur. Kain kafan berkilo-kilometer panjangnya tak akan pernah cukup untuk menguburkan semua yang pergi pada hari itu. Derai isak tangis akan menjadi kering karena besar sekali kesedihan yang akan kita tanggung."
"Maksud bapak akan terjadi bencana besar pada kami?"
"Bukan hanya bencana bagi kita, Nak Dokter. Tapi bagi seisi dunia ini."

Ia menjawab pertanyaanku dengan begitu meyakinkan, seolah-olah penjelasan yang meluncur dari mulutnya itu bukanlah keluar dari seorang yang diduga mengalami sakit jiwa akibat terlalu lama dipenjara, tetapi oleh seseorang yang oleh karena kepeduliannya pada lingkungan meramalkan datangnya bencana besar dari arah barat pantai.

"Darimana bapak tahu tentang semua ini?"
"Entahlah... Mulanya hanya mimpi, tapi mimpi ini sudah sering terjadi berulang kali. Semua karena aku, Nak Dokter. Aku gagal menghela mereka yang mau menebang hutan bakau kita. Aku... aku..."

Ia kembali lagi terbata-bata dan menangis. Sesi tanya-jawab itu kuakhiri dengan mengisi catatan pengamatan. Kutulis, ada dugaan lelaki beraroma jeruk itu mengalami gejala schizophrenia, suatu kondisi gangguan mental yang disebabkan karena ketidak-seimbangan kimia otak. Berdasarkan pengamatanku, cara berpikir dan perilakunya jadi abnormal, apalagi ia sering mengalami halusinasi, delusi, distorsi cara berpikir, dan ekspresi yang tak seharusnya dilakukannya. Lalu di bagian bawah catatan pengamatan, kutulis resep obat yang harus dikonsumsinya selama tiga hari, yakni sejenis serotonin-dopamine antagonists yang mampu mengurangi gejala schizophrenia yang dialaminya. Sungguh kasihan lelaki beraroma buah jeruk itu!

Tiga hari kemudian aku kembali ke penjara. Namun lelaki beraroma buah jeruk itu tidak datang ke ruangan periksa. Kupanggil sipir penjara dan aku memintanya untuk mengantarku ke sel tempat lelaki itu berada. Sipir itu bergerak di depanku, menyusuri lorong-lorong penjara yang kelam.

Penjara di LP Keudah ini sudah penuh. Ada 776 napi yang menghuni tempat ini, padahal kapasitas penjara ini hanya mampu memenuhi kurang dari jumlah itu. Jadi di satu sel di penjara ini, ada cukup banyak napi yang mendiami. Macam-macam latar belakang mereka itu. Ada begal yang kejam dan sadis, tahanan narkotika, pemerkosa, dan anggota GAM yang tertangkap. Tampak di antara napi, sejumlah anggota DPRD yang ditahan karena tersangkut kasus korupsi pengadaan mobil untuk anggota dewan. Di jejeran lain, tampak Irwandi Yusuf yang disebut-sebut sebagai juru propaganda GAM. Tapi lelaki beraroma jeruk itu belum tampak. Sipir kemudian mengajakku ke lapangan tengah. Di sana ada sebuah menara air. Di sanalah kulihat ia, berdiri di ujung menara air, menatap ke arah laut sambil berseru lantang, "Air datang! Airnya datang! Cepat mengungsi ke bukit!"

Sipir itu memanggil, "Pak Tua, ayo turun! Dokter ingin ketemu!"
Ia menatapku tajam, lalu tersenyum lebar.
"Oh, Nak Dokter sudah datang. Cepat naik ke atas sini dan lihat sendiri. Airnya sudah setinggi rumah!"
"Oke," teriakku membalas ajakannya, "Saya akan naik ke atas. Tapi nanti bapak ikut turun bersama saya."
"Beres! Ayo naik Nak, lihat buktinya! Aku selama ini tidak bohong padamu. Aku tidak gila. Aku sudah melihat semuanya, sejak bakau di hutan ditebangi habis."

Aku mendekati anak tangga terbawah menara air. Sementara sipir membantu memegang tangga besi itu agar tak bergerak-gerak. Satu demi satu anak tangga kunaiki dan di plafon atas, kutemui ia di sudut menara air.

"Pak, ayo turun. Tinggi sekali di sini, nanti Bapak jatuh!" Ajakanku disambutnya dengan dingin. Ia mematung, diam memandang jauh ke arah laut.
"Lihatlah ke barat, Nak. Kau lihat tinggi gelombang itu?"

Aku memalingkan muka ke arah barat, tapi aku tak melihat apa-apa. Aku menggeleng.

"Belum? Belum bisa kau lihat memang. Ia akan datang sebentar lagi. Tak pernah kita melihat ombak setinggi itu. Menyeret habis peradaban kita. Melantakkan daratan, menyapu kehidupan. Tambak-tambak akan rusak parah. Kapal-kapal besar akan mendarat serampangan di jalanan. Semua akan terjadi dengan cepat. Sirna dalam sekejab. Menyisakan puing bata dan mayat dimana-mana. Di atap. Di jembatan. Di lorong. Semua cuma bisa berteriak melolong dalam kebisuan abadi yang kosong. Lalu siapa yang tak iba dan hirau?"

Dalam hati kuberpikir halusinasinya datang bukan lagi dalam bentuk mimpi, tapi sudah di saat keadaan sadar. Obat yang kuberikan tidak memberi efek apapun untuk mengurangi gejala halusinasinya itu.

"Tapi aku tak melihat apapun, Pak. Maaf, sebaiknya kita turun saja."

Ia menghela nafas panjang. Tampak sekali ia kecewa karena aku tak melihat apa yang ia lihat. Akhirnya ia mau turun jua mengikutiku. Ia langsung melengos pergi ke selnya. Kutanya apapun ia tak mau menjawab. Dan begitulah, sejak saat itu lelaki beraroma buah jeruk itu tidak mau datang sendiri ke balai pemeriksaan. Haruslah aku berela-rela mendatanginya ke bilik sel hanya demi satu alasan: mengetahui kabar lelaki beraroma buah jeruk itu.

Dua hari kemudian, aku mendapatkan tugas ke Jakarta. Sekalian aku ingin mengunjungi sanak-saudara yang merantau ke ibukota dan ada libur sehari karena datangnya hari Natal. Sebetulnya aku sedikit enggan berangkat, apalagi aku tahu lelaki beraroma buah jeruk itu tidak bisa ditinggalkan sendiri. Beberapa hari ini ia demam tinggi dan meracau di dalam mimpinya. Hampir saja kepala penjara mengusulkan agar lelaki beraroma buah jeruk itu dipindahkan ke tempat lain, karena teman-teman di sel lain berniat membunuhnya karena tidak bisa tidur mendengar racauannya. Tapi keraguan itu bisa ditepiskan oleh rekan-rekan sejawat yang mengatakan bahwa mereka berjanji untuk menjaga lelaki beraroma buah jeruk itu.

Menurutku sendiri, hubungan antara diriku dan lelaki beraroma buah jeruk itu ada di wilayah yang tak selazimnya. Statusnya memang pasienku, tetapi pada prakteknya aku tak bisa menyembunyikan rasa kasih dan iba, sama seperti seorang anak pada bapaknya, teman pada sahabat lama, kekasih pada belahan jiwanya. Ada reaksi kimia yang kuat yang sebetulnya ada di luar batas-batas hubungan dokter dan pasiennya. Sejak kejadian di menara air itu, aku juga menghentikan semua obat-obatan yang kuresepkan padanya. Rasa kasih dan ibaku tumbuh membesar hari demi hari, sementara setiap hari kulihat lelaki beraroma buah jeruk itu semakin mengurus, kusam, tak bergairah dan terus-menerus mengalami mimpi buruk. Jangan-jangan apa yang ia lihat memang benar adanya? Entahlah.

Di Jakarta, sebetulnya ada kesempatan bagiku untuk melupakan pekerjaan, melupakan kabar lelaki beraroma buah jeruk itu, melupakan kota kelahiran, melupakan riwayat panjang berdarahnya, melupakan politik di balik semua kekisruhan. Seperti biasa, kuseduh kopi sambil menonton televisi. Lalu entah bagaimana, cangkir kopi itu jatuh. Air panasnya meruah ke lantai, membasahi celana kainku, menjauhi mulutku yang semula hendak menyeruput. Waktu seolah berhenti. Langit seperti batu balok yang menekan kepala. Di televisi, mulanya cuma sebatas deretan huruf dan angka. Empat ratus awalnya, tahu-tahu jadi 27.000. Ini bukan jumlah kenaikan harga saham. Ini bukan tentang berapa jumlah uang dikorupsi di negeri ini. Ini tentang jumlah korban yang mati akibat tsunami di Aceh.

Di televisi itu, deretan huruf dan angka itu berganti dengan cepat. Angka bertambah. Gambar-gambar video mulai ditayangkan. Ya Allah! Kulihat itu ombak melebihi tinggi rumah. Masuk ke daratan, menyapu semuanya. Bangunan, rumah, mesjid, dan orang-orang yang berhamburan. Kapal-kapal besar mendarat di jalanan. Kulihat lagi seorang lelaki tua berjenggot putih, mengenakan pakaian putih, bersayap dari bulu-bulu terindah, sedang berselancar di atas ombak tsunami. Ia memimpin barisan ombak menghantam semua yang menghalangi jalan. Semua orang berteriak memintanya untuk berhenti, tapi ia sudah menjadi tuli. Ia, lelaki itu, adalah lelaki beraroma buah jeruk yang disangka gila, bahkan olehku.

Jakarta, 28 Maret 2005


Senang membaca karyaku?
Dapatkan langsung ke alamat emailmu! Caranya mudah dan praktis. Cukup kirimkan email ke amangsworld, karya-karya ini akan dikirim langsung secara reguler.
  TagBoard Message Board
n a m e

i d e a (smilies)

 

Kreasi ini dilindungi oleh kesetiaan dan ketekunan, 
jadi mohon hargailah dengan layak dan sepantasnya.
Permohonan atas salinan puisi bisa disalurkan lewat email.

Copyrights Amang's World 1992-2004