Make your own free website on Tripod.com
dunia kecil di belantara maya
ada di sudut kelokan jalan
dekat dapur peradaban

/depan
/indeks esai

/link
/isisitus

TENTANG ALI

BAIKLAH nama ini terpatri di semua kita: Ali Ismail Abbas (13). Tiga pekan lalu, kehidupan Ali seperti laiknya kehidupan kita. Ayahnya masih sempat mengajaknya bermain, sedang ibunya yang sedang mengandung tak pernah alpa menyiapkan makan malam meski keadaan sehari-hari semakin sulit. Sepupu dari kedua orangtuanya juga hidup bersama Ali dan bersamanya mereka bermain di sekitar rumah mereka yang kecil di kota Baghdad. Namun, kehidupan Ali berubah saat kota Baghdad dibombardir 14 hari tiada henti di sepanjang malam.

Saat ditemukan oleh para penduduk kota Baghdad, Ali yang kita kenal sekarang adalah seorang korban perang. Dua lengan tangannya putus terkena bom yang dahsyat, sedang seluruh kujur tubuhnya terbakar. Tapi ia bertahan dan masih hidup. Hanya saja ia menjadi histeris manakala ia tahu: ayah, ibunya yang mengandung, dan semua sepupu yang malam itu masih saja mengajaknya bercanda mati dengan mengenaskan. Bukan hanya itu, rumah yang mereka diami dan seluruh blok yang tadinya berdiri di pemukiman Al-Mansour itu sudah rata dengan tanah. Sejenak kemudian Ali pingsan.

Adapun saat kutuliskan tentang kisah Ali ini, ia sudah berada di rumah sakit Kuwait untuk dioperasi. Dokter dari rumah sakit setempat merasa puas dengan hasil operasi, meski katanya operasi untuk Ali menghabiskan begitu banyak persediaan darah dan ratusan ribu dollar. Untuk sementara ia selamat dan ia harus tetap tinggal di rumah sakit selama satu tahun agar fisiknya kembali normal.

Namun kabar baik itu, seperti juga harapan agar segala sesuatu berjalan normal setelah perang, hanya mengambang di langit-langit harapan kita. Ali sudah terlanjur menjadi korban. Dapatkah sejenak kita membayangkan bagaimana masa depan Ali nanti? Bukankah kepada kita telah berulangkali terdengar tentang nasib anak-anak korban perang: traumatis dan tumbuh dengan beban psikologis yang terlalu berat? 

Biar kuceritakan pertemuanku dengan anak korban perang beberapa tahun lalu. Ia menangis dan tak pernah bisa berhenti menangis, karena dengan mata kepalanya sendiri ia lihat bapaknya diseret dengan mobil tentara lalu ditembak dan dilindas beberapa kali. Dan ia terus menangis dan tak pernah bisa berhenti menangis. Untuk beberapa kali ia terdiam, sambil menggeretukkan gigi ketika melihat laki-laki berseragam. Matanya penuh amarah, badannya menggigil geram. Ia murka, tapi kemudian ia kembali menangis. Seperti inikah kehidupan yang kita harapkan?

Baiklah kita sejenak kembali ke kisah tentang Ali. Tadi telah kukatakan bahwa Ali adalah seorang korban, tetapi ternyata aku (sangat) keliru. Haifa Zangana, novelis dan pelukis Irak dari suku Kurdi menulis ini untuk kita: "Bagi kami bangsa Irak, tentara Amerika dan Inggris tidak hanya bersalah karena membunuh kami, tapi juga karena menghapus sejarah kami" (The Guardian, April 2003) Jadi bukan saja Ali dan bangsa Irak itu korban, tapi mereka telah ahistoris seperti layaknya benda-benda mati yang dijarah dari museum-museum sejarah di Baghdad.

Dan kini aku tak bisa lagi bicara tentang Ali hanya sebagai korban perang semata, tetapi haruslah dengan menambahkan bahwa ia adalah bagian dari kemanusiaan yang telah dihapus. Bahwa sesudah perang, biasanya setiap kita kemudian bisa begitu mudah melupakan dan enggan membicarakan masa lalu. Tetapi bagi Ali dan bangsa Irak, kehidupan yang pantas dibicarakan adalah masa sebelum kehidupan itu dihapuskan oleh rudal, mesiu dan deru senjata. Kehidupan yang pantas dibicarakan adalah masa sebelum kemanusiaan mereka, baik nyawa maupun sejarah kebangsaan mereka, digantikan dengan anarki yang diberi nama demokrasi. Demikian berat kehidupan yang kini dihadapi oleh mereka, bahkan airmata mereka kini telah menjadi kata-kata dan puisi bagi kita.

Adalah baik apabila nama Ali Ismail Abbas kita patri di kenangan kita agar esok ketika kita mendengar upaya peperangan di bumi ini, kita bisa menyuarakan penolakan dengan lebih lantang dan gemanya bisa mengetuk setiap insan meski suara hati kemanusiaan lambat-laun tidak mendapatkan tempat dan cuma tergeletak penuh debu di gudang-gudang peradaban kita.

Jakarta, 18 April 2003

 

Kreasi ini dilindungi oleh kesetiaan dan ketekunan, 
jadi mohon hargailah dengan layak dan sepantasnya.
Permohonan atas salinan puisi bisa disalurkan lewat email.
Amang's World @ 2003