dunia kecil di belantara maya
ada di sudut kelokan jalan
dekat dapur peradaban

/depan
/indeks esai

/link
/isisitus

SURAT KECIL TANPA PERANGKO
Bagian 10 - Surat Seorang Bajingan Kepada Istrinya


SURATMU itu baru saja kubaca. Tak henti-hentinya aku menghela nafas untuk menahan isak tangis yang segera saja berlomba mengucur membasahi pipiku saat lembar pertamanya melintas di benakku. Relung mukaku sudah lelah, tapi tak ingin rasanya aku berhenti membaca catatan kesaksian penantianmu itu, ya Sayangku.

Siapa yang bisa menyalahkan rasa rindu yang ternyata kita pendam berdua? Seperti juga pertanyaan yang sama saat dulu kuajukan di lantai empat gedung parkir itu. "Siapakah yang bertanggungjawab atas cinta di antara kita?" 

Adakah aku atau kamu yang lebih dahulu membuka pintu hati, apakah lagi perlu diperdebatkan? Yang pasti dan tak pernah berubah hingga saat kutulis surat kecil ini adalah tak ada rasa sesal karena pilihanku telah jatuh kepadamu. - Aku telah jatuh hati kepadamu!

Hendak kusunting engkau, ya Coklat Manisku, dan kuboyong engkau ke rumah kita. Maukah kau besarkan anak-anak daripadaku? Dan pada dadamu yang penuh itu, bergantung anak-anak kandung kita yang berlomba menghisap sari pati dunia dan kasih kita sekarang dan selama-lamanya?

Segera, ya Sayangku, aku 'kan menjemput hadirmu dan kunobatkan dirimu dalam langit biruku.

Jangan takut, Gadis Kecilku. Aku ada di sini. Bersembunyi dalam semilir udara, bersidekap erat dengan tubuhmu. 

Jiwakulah itu yang kukirimkan untuk menemani dan menjagamu di setiap waktu. Ia akan mengirim kabar bila kau gelisah. Ia akan mengirim kabar bila kau sedih. Kukirimkan sudah belahan jiwaku dan kusisipkan ia ke dalam batinmu, agar aku selalu tahu apa yang mengganggu isi pikiranmu.

Jangan takut, Gadis Kecilku, karena aku akan menjagamu selalu. Biarlah aku belajar melindungi dirimu, meski diriku tak sehebat Rambo dalam film laganya atau Jacky Chan dengan kungfunya.

Bekalku hanya ilmu cinta, karena aku sudah mendaraskan janji ke hadapan langit dan bumi untuk menjagamu dalam rengkuhku yang tak seberapa. Bukti betapa aku menghargai hadirmu yang sangat istimewa dalam hidupku yang tak mewah ini.

Kaulah harta jiwaku. Kaulah permaisuri yang kunobatkan dalam ruang tahta jiwaku. Tak kukurung engkau dalam sangkar bambuku yang hina, tak kuminta engkau berbuat ini itu.

Cukuplah tinggal dalam batinku, karena segarlah sudah dan indahlah selalu hatiku mengenang hadirmu hingga hari ini. Sudah kaupuaskan aku akan dahaga perjumpaan.

Oh, Perempuanku, adakah cintaku berkenan di hatimu? Akankah itu membuatmu terus singgah di hatiku? Untuk selama-lamanya?

Marilah, Kekasihku, tak hendak kututup lagi pintu batinku ini agar hadirmu lebih nyata. Kuundang engkau dalam pestaku. Marilah kau segera menjadi Lois-ku dan bersama kita bergandeng tangan menuju pelaminan hingga tiba saatnya pantai pasir putih dan negeri tempat anak-anak kita bermain bersama merajut bahagia. Mari, marilah Kekasihku. Kujemput engkau dengan sejuta pesan yang sudah kutanam di langit dan tinggal kupanen dari sejuta bintang di angkasa.

Bukankah itulah keindahan yang lebih pasti? Diriku mungkin hina, tapi aku punya satu harta: kasih rindu penuh ketulusan kepadamu. Kini, bolehkah aku berharap agar kautepiskan segala ketakutanmu? 

Marilah kita berharap satu sama lain dan saling menguatkan agar apa yang kita mulai ini menuju jalan penuh ketulusan dan saling percaya. Bukankah itu yang dinamakan sepasang kekasih di dalam suka dan duka?

6 Agustus 1997
 

Kreasi ini dilindungi oleh kesetiaan dan ketekunan, 
jadi mohon hargailah dengan layak dan sepantasnya.
Permohonan atas salinan puisi bisa disalurkan lewat email.
Amang's World @ 2003