Make your own free website on Tripod.com
dunia kecil di belantara maya
ada di sudut kelokan jalan
dekat dapur peradaban

/depan
/indeks esai

/link
/isisitus

SURAT PENGEMBARA PADA BUNGA PADANG ILALANG


TAHUKAH engkau, Bunga? Sejak ciuman cinta di derai hujan yang kau cinta --disergap bau tanah yang merindu bulir airnya-- cahaya cinta menyelinap genit dalam semilir udara. Menggoda selalu, hingga mukaku bersemu merah dadu tak kuasa menahannya.

Bulir air mataku kini telah kau miliki, hanya itu yang bisa kuberikan kepadamu. Badai pasir yang kuhadapi telah lama menenggelamkan harta jiwaku dalam timbunan sejengkal atau dua jengkal galian. Masa laluku adalah gurun itu, yang menenggelamkanku dan menyedotku dalam kehausan dan kesepian malam berselimutkan kematian. Kesepian, kegelapan, kesengsaraan, kepanasan adalah jamur yang tumbuh dalam darah kehidupanku yang lalu.

Tahukah engkau, Bunga? Wangimu mengalahkan sejuta kembang mawar Dewi Hera. Keelokanmu mengalahkan beribu dewi kecantikan. Suaramu senada dengan denting kecapi dan mainan suling pelepas rindu. Di bahumu yang sempurna itu bisa bergantung beribu anak bangsa yang mencintai dan mengasihimu.

Aku tak pernah tahu siapakah namamu. Dalam hujan yang merintih kepanasanitu, aku tak pernah tahu seperti apa dirimu. Yang kutahu, tangkai terindah yang kau berikan sebagai tanda terima kasihmu telah kutanam dalam ladang kosong jiwaku. Tangkai terindah milikmu telah memupuskan kebencian matahari terhadap bulan. Dan aku tak lagi mengenal perih luka karena kekosongan jiwa.

Aku selalu bertanya, ya Bungaku? Dimana lagi aku akan dapat menemuimu. Bukan untuk memilikimu. Mungkin karena aku tahu, serangkaian bunga cinta yang kau miliki itu bukanlah untuk diriku. Bolehkan aku memintamu untuk menemaniku sejenak setelah kepergianku yang panjang menyusuri padang gurun kesepianku? Pertanyaan ini telah berulang kali kusampaikan kepadamu lewat semilir udara dan bisikan nada kasih nyanyianku kepadamu.

Kalau kau hendak bertanya kepadaku, ya Bungaku, "Kemana kau akan pergi, Pengembaraku?" Aku akan menjawab, "Bukan lagi ke Barat, ke Timur, ke Utara maupun ke Selatan. Aku akan pergi kepadamu. Mengajakmu berdansa di bawah bentangan cakrawala bertaburkan bintang. Mendekapmu dalam sergapku dan merebahkan mukamu dalam lebar dadaku, hingga kau dapat mencium aroma tubuhku dan aku mencium aroma tubuhmu. Dan kita berdiri di sana, di bawah bentangan cakrawala bertaburkan bintang berhiaskan purnama, menghabiskan akhir malam yang tak sempat kunikmati berdua bersamamu."

Kemanakah kau pergi, ya Bungaku? Setelah ciumanmu yang menghapuskan rasa duka kesepianku itu, kau menghilang meniadakan kabar. Berpuluh musafir yang bertemu denganku tak pernah melihat kepergianmu dan aku pun tak tahu lagi bagaimana harus menemuimu. Aku hanya bisa menulis surat ini yang hendak kutitipkan pada Dewi Kebajikan yang kebaikannya memenuhi atmosfer kehidupanku yang selalu kelam dan muram. Pesanku untukmu, ya Bungaku. Lekaslah kembali dan kujanjikan akhir malam terindah di bawah bentangan cakrawala bertaburkan bintang berhias purnama. Aku hutang rindu kepadamu.

Peluk cium dari Pengembara.

Kamar Penuh Poster, 30 Maret 1997

 

Kreasi ini dilindungi oleh kesetiaan dan ketekunan, 
jadi mohon hargailah dengan layak dan sepantasnya.
Permohonan atas salinan puisi bisa disalurkan lewat email.
Amang's World @ 2003