dunia kecil di belantara maya
ada di sudut kelokan jalan
dekat dapur peradaban

/depan
/indeks puisi

/link
/isisitus

RATAPAN DI GURUN

Di gurun, pengembara itu meratap 
Seribu tangis menyerbu untuk jalan tanpa ujung dan akhir 
Tangisnya darah, lukanya merah 
Dia bungkam untuk bicara 
Tak tahu lagi untuk apa berjalan ke sana, 
menuju kota bahagia yang entah ada di mana

Di gurun, pengembara itu berhenti, 
karena lelah sudah berjalan dan bermimpi 
Kakinya berat, hatinya karam
Dia bungkam untuk berpikir
Apakah ada dunia selain gurunnya?
Tiadakah akhir dari jalan tanpa ujung dan akhir?

Di gurun, burung-burung nasar melayang di angkasa
Menanti pengembara melepas jiwanya
Hingga bebas mereka mengoyak raga hampa itu
untuk hidup di kemudian hari

Di gurun, di bawah incaran burung-burung nasar
pengembara hendak melepas jiwanya
Dia berhenti untuk suatu perhentian
yang seharusnya terlaksana sejak dulu

30 Oktober 1997

Kreasi ini dilindungi oleh kesetiaan dan ketekunan, 
jadi mohon hargailah dengan layak dan sepantasnya.
Permohonan atas salinan puisi bisa disalurkan lewat email.
Amang's World - 2001-2003